Melampaui Logika Angka dan Gugatan Terhadap Logosentrisme Kekuasaan
Mengapa kita selalu terpaku pada angka saat alam mulai murka? Ketika banjir besar akibat sisa Badai Maysak menenggelamkan wilayah Guangxi, reaksi pertama kita adalah menghitung. Kita sibuk mengukur curah hujan hingga puluhan inci seolah-olah dengan memberi angka pada penderitaan, kita bisa menjinakkan ketakutan tersebut.
Data resmi mencatat enam orang tewas dan 130.000 warga harus mengungsi dari rumah mereka. Namun di balik statistik kaku yang dirilis kantor propaganda regional, ada jeritan nyata yang tak terwakili oleh angka. Fakta ini menjadi pintu masuk untuk melihat bagaimana makna penderitaan manusia sering kali direduksi demi menjaga ketertiban birokrasi.
Read Also
Di sini kita melihat oposisi biner yang timpang antara manusia yang merasa superior dan alam yang dianggap sebagai objek kendali. Manusia memosisikan diri sebagai pusat ketertiban, sedangkan alam dituduh sebagai pembawa kekacauan eksternal. Ironisnya, semakin keras kita berusaha memisahkan kedua hal ini, semakin runtuh pula batasan yang kita buat.
Wacana dominan selalu mengagungkan logosentrisme, sebuah keyakinan bahwa rasionalitas teknokratis mampu menyelesaikan segala krisis. Namun narasi ini mengalami dekonstruksi ketika teknologi justru lumpuh total. Kesaksian warga seperti Lu Xiaofei tentang rumah yang terendam setinggi manusia tanpa listrik mengekspos kontradiksi internal dari klaim kemajuan tersebut.
Keadaan ini membawa kita pada sebuah aporia, sebuah jalan buntu logis yang membingungkan. Di satu sisi, industri penangkaran ular komersial dibangun untuk keuntungan ekonomi manusia, namun saat banjir tiba, ular-ular itu lepas dan menggigit warga. Suplemen yang diciptakan manusia untuk menguasai alam justru berbalik menjadi ancaman mematikan yang meruntuhkan tatanan.
Pada akhirnya, banjir di Asia mulai dari China, Bangladesh, hingga India menyisakan ketidakpastian yang produktif bagi masa depan peradaban. Kita dipaksa merenung tanpa sebuah kesimpulan akhir yang menenangkan. Apakah bencana ini adalah kegagalan kalkulasi teknis semata, ataukah tanda bahwa cara kita memahami relasi dengan bumi selama ini sudah sepenuhnya keliru?