Retorika Damai yang Terjebak dalam Siklus Kekerasan Tanpa Ujung
Apakah perdamaian hanyalah sebuah jeda singkat untuk mempersiapkan perang yang lebih besar? Ketika Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir namun negosiasi masih bisa berlanjut, kita dihadapkan pada logika yang janggal. Kita seolah dipaksa merayakan diplomasi di atas tanah yang terus-menerus diguncang oleh ledakan rudal.
Data menunjukkan AS menghantam lebih dari 80 target menggunakan amunisi presisi tinggi sementara Iran membalas dengan menyerang 85 situs militer. Di balik angka-angka kehancuran dan lonjakan harga minyak global menjadi 73 dolar per barel ini, tersimpan sebuah makna kelam. Perang tidak lagi dipandang sebagai tragedi, melainkan sekadar kalkulasi angka dalam tabel statistik kekuasaan.
Read Also
Konflik ini memelihara oposisi biner yang ketat antara 'pembela ketertiban' melawan "pelaku teror". AS mengklaim serangannya sebagai penegakan hukum maritim internasional di Selat Hormuz, sedangkan Iran merasa berhak membela kedaulatan wilayahnya. Ironisnya, kedua belah pihak menggunakan pembenaran moral yang sama untuk saling menghancurkan dan melanggengkan kekerasan.
Wacana dominan tentang perdamaian mengalami dekonstruksi ketika proses negosiasi justru dijadikan tameng untuk meluncurkan agresi baru. Konsep gencatan senjata tidak pernah menjadi tanda perdamaian sejati, melainkan sebuah différance yang menunda kehancuran total. Perdamaian dan perang ternyata bukan dua hal yang terpisah, melainkan saling melengkapi dalam memperkuat kuasa logosentrisme militer.
Di sinilah kita menemui sebuah aporia atau jalan buntu logis yang membuat resolusi damai menjadi mustahil dicapai. Bagaimana mungkin pembicaraan meja bundar bisa menghasilkan kesepakatan jika hakikat dari negosiasi itu sendiri dianggap 'membuang waktu' oleh para pemimpinnya? Setiap upaya diplomasi justru menjadi suplemen yang menyuburkan ketidakpercayaan baru di antara kedua negara.
Pertunjukan kekuasaan ini akhirnya meninggalkan kita dalam ketidakpastian produktif tentang masa depan kemanusiaan universal. Di tengah riuh pemakaman pemimpin dan dentuman jet tempur, keadilan sosial global semakin tenggelam dalam ambisi geopolitik. Apakah peradaban modern kita memang dikutuk untuk hidup dalam ilusi perdamaian yang abadi, ataukah kita yang terlalu naif mempercayai janji para penguasa?