Amerika Serikat Iran Selat Hormuz

AS Cabut Konsesi Iran Setelah Serangan Selat Hormuz

Media Nama 2026-07-07 Amerika Serikat

Pemerintah Amerika Serikat mencabut konsesi ekonomi utama berupa pengecualian sanksi minyak terhadap Iran menyusul serangan baru di Selat Hormuz.

Kapal kargo dan tanker minyak lego jangkar di Teluk Oman.

Kapal kargo dan tanker minyak lego jangkar di Teluk Oman.

Ketegangan Baru Selat Hormuz Mengancam Stabilitas Pasar Energi

Ketegangan geopolitik kembali membara di Selat Hormuz setelah tiga kapal komersial dilaporkan diserang oleh pasukan Iran. Langkah agresif Teheran ini dinilai melanggar nota kesepahaman (MOU) gencatan senjata yang baru disepakati bulan lalu. Akibatnya, Washington mengambil tindakan tegas dengan membatalkan pelonggaran sanksi ekonomi.

Insiden tersebut terjadi berturut-turut pada Senin dan Selasa, menyasar kapal tanker termasuk Al Rekayyat dari Qatar dan Wedyan berbendera Arab Saudi. Berdasarkan data pelayaran, arus lalu lintas harian di jalur logistik vital ini anjlok ke angka 30 hingga 60 pelintasan kapal. Jumlah ini turun drastis dari rata-rata normal yang mencapai 140 kapal per hari.

Seorang pejabat AS menegaskan bahwa kesepakatan dengan Iran sepenuhnya berbasis kinerja nyata di lapangan. "Tindakan Iran di Selat Hormuz sama sekali tidak dapat diterima dan akan menghadapi konsekuensi berat," ujarnya. Melalui Office of Foreign Assets Control (OFAC), Departemen Keuangan AS resmi menarik kembali pengecualian sanksi minyak tersebut.

Konflik ini meletus tepat setelah Presiden Donald Trump memberikan kelonggaran diplomatik selama masa berkabung wafatnya Pemimpin Agung Ali Khamenei. Pembatalan konsesi ini berpotensi memicu volatilitas baru di pasar energi global, mengingat seperlima pasokan minyak mentah dunia melewati Selat Hormuz secara reguler.

Amerika Serikat Iran Selat Hormuz Sanksi Ekonomi Gencatan Senjata Konflik Timur Tengah

Banyu Renjana

Jurnalis Berita & Peristiwa Terkini - Media Nama

Jurnalis senior dengan pengalaman lebih dari 12 tahun meliput berita terkini di Indonesia. Mengkhususkan diri pada peristiwa penting, krisis kemanusiaan, dan isu-isu sosial yang berdampak luas bagi masyarakat. Dikenal dengan gaya penulisan yang lugas dan mendalam.