Ancaman Surplus Pasokan Minyak Global Akibat Penurunan Impor China
Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz kembali pulih seiring meredanya konflik dan berjalannya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini mengalirkan kembali jutaan barel minyak mentah ke pasar internasional. Namun, pemulihan jalur logistik strategis ini justru memicu kekhawatiran baru bagi stabilitas ekonomi global.
Para ahli strategi komoditas dari JPMorgan menyatakan bahwa lonjakan pasokan ini menciptakan paradoks besar karena terjadi saat pasar tidak membutuhkan tambahan minyak. Penurunan permintaan paling signifikan datang dari China yang secara drastis mengurangi volume impornya setelah sempat melakukan aksi beli besar-besaran sepanjang tahun lalu.
Read Also
"Barel minyak yang sekarang keluar dari Hormuz semakin tidak memiliki tujuan selain China, tetapi China sedang tidak membeli," tulis laporan JPMorgan yang dipimpin Natasha Kaneva. Penurunan konsumsi domestik di negara sekutu dagang utama tersebut memaksa para pelaku industri mengkaji ulang apakah fenomena ini merupakan pergeseran struktural jangka panjang.
Badan Energi Internasional memproyeksikan permintaan minyak dunia akan turun sebesar 1,1 juta barel per hari pada tahun ini. Meski harga tidak diperkirakan anjlok seketika karena adanya potensi pengisian kembali cadangan darurat oleh korporasi, pasar minyak global diprediksi membutuhkan waktu lama untuk menyeimbangkan kembali neraca perdagangan hingga tahun depan.