Krisis Ekonomi Rusia dan Ancaman Eskalasi Konflik dengan NATO
Perang yang diprakarsai Moskow kini memasuki tahun kelima dan terus menguras ekonomi Rusia serta menurunkan popularitas Putin. Serangan jarak jauh Ukraina menyebabkan kelangkaan gas serius dan kerusakan infrastruktur yang masif di Moskow. Publik kini mempertanyakan langkah strategis apa yang bisa diambil Kremlin untuk merespons kepercayaan diri Kyiv yang meningkat.
Indikator ekonomi menunjukkan Rusia berada dalam posisi lemah secara geopolitik dan militer dibanding tahun 2022. Negara kaya hidrokarbon ini terpaksa mengimpor bensin akibat serangan drone Ukraina pada kilang minyak mereka. Kremlin bahkan menguras cadangan mata uang asing dan merekrut narapidana demi menambal kekurangan personel di garis depan.
Read Also
Sebaliknya, Moskow juga menunjukkan kesiapan perang dengan mengalihkan fungsi pabrik untuk mendukung industri militer secara penuh. Menurut pengamat, Rusia menghabiskan sekitar 7% dari PDB dan hampir setengah dari anggaran negara untuk mendanai konflik ini. Angka tersebut jauh melampaui komitmen anggaran pertahanan sebagian besar negara anggota NATO.
Para analisis menilai bahwa Putin memanfaatkan narasi konfrontasi dengan NATO untuk membenarkan mobilisasi militer skala penuh di dalam negeri. "Putin mungkin merasa lebih aman menghadapi perang yang belum dia menangkan melawan Ukraina, daripada memicu konflik terbuka yang tidak bisa dia menangkan melawan NATO," ujar lembaga riset Institute for the Study of War.