opini filsafat phk

Eufemisme Penataan: Jejak Ketidakhadiran di Balik Riuh Klarifikasi

Media Nama 2026-07-08 opini

Pertemuan elite di Gedung Nusantara III DPR kemarin menyisakan satu pertanyaan besar. Apakah bahasa hukum korporat benar-benar mampu menghapus kecemasan para pekerja?

Siluet ruang rapat kosong dengan panggung konferensi pers sepi

Siluet ruang rapat kosong dengan panggung konferensi pers sepi

Mengurai Oposisi Biner Antara Penataan dan Pemutusan Hubungan Kerja

Saat jagat maya riuh oleh isu pemutusan hubungan kerja di Tokopedia, para pemegang otoritas bergegas berkumpul. Pertemuan tripartit antara DPR, Kementerian Ketenagakerjaan, dan manajemen Tokopedia-TikTok digelar demi meredam kepanikan publik. Namun, benarkah kepastian bisa dihadirkan hanya dengan meluruskan sebuah narasi?

Dalam konferensi pers pascapertemuan, data dan klarifikasi dihadirkan sebagai penawar ketakutan. Manajemen menegaskan tidak ada pemecatan, melainkan penataan internal dan mobilitas kerja, bahkan mengumumkan rekrutmen seratus posisi baru. Angka dan posisi ini seolah menjadi bukti objektif bahwa roda ekonomi digital kita masih berputar dalam harmoni yang sempurna.

Wacana dominan ini bersandar pada oposisi biner yang memisahkan kata 'penataan' yang menenangkan dengan kata "PHK" yang traumatik. Otoritas birokrasi dan kapitalis memposisikan diri sebagai pemilik sah atas makna kata. Publik dituntut percaya bahwa struktur korporasi sedang bergerak menuju efisiensi yang altruistik tanpa ada korban di dalamnya.

Namun, melalui kacamata dekonstruksi, retorika penataan ini justru menyingkapkan keruntuhannya sendiri ketika menyebut ada karyawan yang "memilih mengambil kompensasi". Istilah memilih di sini menjadi komplemen yang berbahaya karena menyembunyikan relasi kuasa yang timpang. Ada jejak PHK yang tidak bisa dihapus, sebab penataan secara inheren selalu membutuhkan tindakan menyingkirkan sesuatu.

Di sinilah kita membentur aporia, sebuah jalan buntu logis yang merumitkan realitas. Ketika perusahaan membuka lowongan baru di saat pekerja lama mengambil kompensasi untuk keluar, batas antara penataan dan pemecatan menjadi kabur. Apakah pasar kerja digital sedang merayakan pertumbuhan, atau justru sedang melanggengkan prekaritas dengan membuang tubuh pekerja yang lama demi efisiensi?

Pada akhirnya, kebenaran dari kepedihan eksistensial para pekerja yang tersingkir akan selalu tertunda di balik jaring-jaring bahasa hukum korporasi. Kita dibiarkan berdiri di atas ketidakpastian tanpa kesimpulan final yang manis. Apakah kemajuan teknologi digital memang dirancang untuk memanusiakan manusia, atau sekadar mesin penggiling yang terus menyaring kita menjadi angka statistik?

opini filsafat phk tokopedia tiktok tenaga kerja

Banyu Renjana

Jurnalis Berita & Peristiwa Terkini - Media Nama

Jurnalis senior dengan pengalaman lebih dari 12 tahun meliput berita terkini di Indonesia. Mengkhususkan diri pada peristiwa penting, krisis kemanusiaan, dan isu-isu sosial yang berdampak luas bagi masyarakat. Dikenal dengan gaya penulisan yang lugas dan mendalam.