Tantangan Akses Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus di Jakarta
Rosidah (51) mengekspresikan rasa syukur mendalam setelah putrinya, Refa Aprilia (9), resmi menjadi siswa kelas 1 SD di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 9 Jakarta, Sunter Agung. Langkah ini mengakhiri pencarian panjang mereka setelah beberapa kali gagal mendaftar di sekolah lain akibat batasan usia dan kuota yang terbatas.
Proses pendaftaran memanfaatkan sistem online yang dilanjutkan dengan verifikasi berkas administrasi langsung di sekolah. Rosidah menyiapkan dokumen penting seperti Kartu Keluarga, akta kelahiran, hingga hasil tes inteligensi (IQ) anak. Kebijakan inklusif ini memangkas birokrasi rumit dan memberikan kepastian kuota bagi warga kurang mampu.
Read Also
Menurut Rosidah, ketiadaan biaya menjadi faktor utama dirinya gigih memperjuangkan kursi di sekolah negeri. "Alhamdulillah banget, senang banget anak aku bisa sekolah. Kita cari yang gratis karena kalau di SLB swasta kami tidak ada biaya," ujarnya saat ditemui langsung di area sekolah.
Keberhasilan Refa masuk sekolah negeri menyoroti pentingnya perluasan inovasi pembelajaran dan akses digital bagi penyandang disabilitas. Kebijakan publik yang berpihak pada penyediaan fasilitas gratis instansi pemerintah menjadi krusial untuk menekan angka putus sekolah dan meningkatkan indeks partisipasi pendidikan inklusif nasional.