Eskalasi Militer AS di Selat Hormuz Picu Guncangan Pasar Energi Global
Ketegangan di Timur Tengah kembali membara setelah gencatan senjata yang rapuh antara Washington dan Tehran resmi berakhir. Komando Sentral Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi serangan udara besar-besaran yang menyasar infrastruktur militer di kota pelabuhan Bandar Abbas serta pulau-pulau strategis seperti Kish, Qeshm, dan Abu Musa. Langkah agresif ini diambil setelah kapal-kapal tanker Uni Emirat Arab di perairan Oman dilaporkan hantam rudal Iran.
Keputusan Presiden Donald Trump untuk memberlakukan kembali blokade laut di pelabuhan-pelabuhan utama Iran langsung memicu reaksi keras di pasar finansial global. Harga minyak mentah Brent melonjak 7,1 persen menjadi 81,40 dolar AS per barel, sementara minyak mentah AS naik 7,2 persen ke posisi 76,50 dolar AS per barel. Arus lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz yang menyalurkan seperlima pasokan minyak dunia kini dilaporkan hampir lumpuh total.
Read Also
Menurut analisis dari Institute for the Study of War, Iran tidak membutuhkan armada raksasa untuk mengacaukan kawasan ini karena ancaman sporadis saja sudah cukup membuat industri pelayaran global menghindari Selat Hormuz. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melalui media sosial menyindir proposal Trump yang ingin memungut tarif perlindungan 20 persen bagi kapal yang melintas, menyebut angka tersebut terlalu mahal dan menegaskan bahwa pihak Tehran yang lebih berhak memungut biaya itu.
Kembalinya konflik aktif ini diproyeksikan akan mengubah peta geopolitik energi secara jangka panjang melalui percepatan pembangunan jalur pipa alternatif oleh negara-negara Teluk. Guna mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz, beberapa negara kini mempercepat proyek pipa darat yang diprediksi mampu mengalihkan separuh dari volume ekspor minyak pra-perang pada akhir tahun 2027.