Mengurai Ilusi Sinergi dalam Pusaran Oposisi Biner Penegakan Hukum
Mengapa sebuah keharmonisan harus dipamerkan dengan begitu gigih di depan kamera? Ketika Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Jaksa Agung ST Burhanuddin saling melempar pujian, kita seperti diajak merayakan sebuah kepastian tanpa cela dalam sistem peradilan kita.
Fakta di lapangan menunjukkan pertemuan di Gedung Kejagung pada Juli 2026 ini dipenuhi rombongan pejabat utama dari kedua belah pihak. Angka dan kehadiran masif ini menjadi pintu masuk untuk menafsirkan makna terdalam bahwa ada pesan kuat yang sedang dipaksakan kepada publik.
Read Also
Dalam lanskap hukum kita, selalu ada oposisi biner yang melekat, seperti Sinergi versus Rivalitas atau Solid versus Retak. Wacana dominan yang dibangun otoritas negara menempatkan kata solid sebagai logosentrisme, sebuah kebenaran mutlak, sementara persaingan dianggap sebagai wilayah marginal yang tabu.
Namun, melalui kacamata dekonstruksi, pengulangan kalimat 'tidak ada masalah' yang diucapkan berulang kali justru menjadi sejenis supplement. Penolakan yang obsesif ini mengirimkan sebuah trace atau jejak ketidakstabilan institusional yang sebenarnya coba disembunyikan dari pandangan mata masyarakat sipil.
Di sinilah kita membentur aporia, sebuah jalan buntu logis yang merumitkan resolusi sederhana. Jika kepolisian dan kejaksaan melebur terlalu mesra tanpa jarak, di manakah kita bisa menemukan fungsi check and balances yang menjamin keadilan objektif bagi pencari keadilan?
Pertemuan manis ini pada akhirnya menyisakan différance, sebuah penundaan makna keadilan yang tak berkesudahan akibat kompromi elite kekuasaan. Apakah pelukan hangat antarlembaga ini menjamin tegaknya hukum yang hakiki, atau justru menjebak kita dalam ketidakpastian yang manipulatif?