Membongkar Oposisi Biner Ketertiban dan Kegilaan Ruang Publik
Peristiwa amuk massa atau amarah personal di jalan raya Jakarta sering kali dianggap sebagai angin lalu yang mengganggu. Namun ketika seorang pria berinisial GVK nekat merusak spion mobil MINI Cooper di Sunter, kita dipaksa menghadap ke sebuah cermin besar. Mengapa ruang publik yang kita anggap netral dan rasional begitu mudah berubah menjadi panggung teatrikal kekerasan yang absurd?
Fakta menunjukkan pelaku ditangkap kurang dari 24 jam setelah merugikan korban hingga Rp 50 juta dan kini dijerat Pasal 521 KUHP. Angka dan kecepatan hukum ini memproduksi ilusi kehadiran kekuasaan yang efisien serta melindung hak milik borjuis. Namun di balik kalkulasi kerugian material tersebut, ada makna sosiologis yang lebih dalam tentang bagaimana simbol kekayaan memicu gesekan psikologis yang akut.
Read Also
Wacana publik segera terjebak dalam oposisi biner yang tegas antara ketertiban hukum melawan keos anarkis, atau pelaku kriminal melawan korban suci. Narasi logosentris ini menempatkan otoritas negara sebagai pusat kebenaran tunggal yang bertugas memurnikan ruang sosial dari gangguan. Kita terbiasa mengutuk tindakan anarkis tanpa pernah berani mempertanyakan struktur apa yang melahirkan agresi sedalam itu.
Mari kita lakukan dekonstruksi terhadap klaim pelaku yang merasa 'tidak diberi jalan' oleh mobil mewah tersebut. Alasan emosi sesaat ini sesungguhnya adalah sebuah trace atau jejak dari rasa alienasi dan kecemburuan sosial yang terpendam dalam kapitalisme urban. Penghancuran spion bukan sekadar kriminalitas murni, melainkan letupan frustrasi subjek yang terhimpit dalam ruang spasial kota yang tidak adil.
Di sinilah kita membentur sebuah aporia atau jalan buntu logis yang membuat resolusi hukum terasa sangat mendasar dan dangkal. Hukum mengklaim menegakkan keadilan dengan memenjarakan pelaku, tetapi penjara tidak pernah menyembuhkan trauma struktural maupun represi psikologis masyarakat urban. Setiap upaya membersihkan jalanan dari keos justru menegaskan bahwa ketertiban itu sendiri membutuhkan keos sebagai syarat eksistensinya.
Pada akhirnya, keadilan yang sejati selalu mengalami différance atau penundaan makna yang terus-menerus karena hukum hanya menyentuh gejala luar. Apakah spion yang pecah itu merupakan tindakan kriminal biasa, ataukah refleksi retak dari wajah peradaban kita yang sedang sakit? Kita ditinggalkan dalam ketidakpastian produktif yang memaksa kita berpikir ulang tentang arti kenyamanan bersama di jalan raya.