Tantangan Kurikulum Baru dan Krisis Akses Pendidikan bagi Pengungsi
Islam Ibrahim, seorang mahasiswi farmasi berusia 20 tahun, melarikan diri ke Republik Afrika Tengah setelah ayahnya terbunuh di Darfur. Di kamp pengungsian Korsi, ia memanfaatkan ilmu medisnya untuk membantu sesama pengungsi. Namun, konflik berkepanjangan ini membuat masa depan akademisnya terputus tanpa kepastian kapan bisa kembali ke ruang kuliah.
Lebih dari tiga puluh mahasiswa Sudan di kamp tersebut menyatakan bahwa perang telah menghancurkan ambisi mereka. Jutaan pelajar di wilayah kendali Rapid Support Forces kini melewati tiga tahun tanpa sekolah dan ujian nasional. Sebaliknya, wilayah kendali tentara Sudan mulai membuka kembali akses pendidikan, memperlebar jurang kesenjangan sosial antargenerasi muda.
Read Also
Bantuan UNHCR membuka jalan bagi puluhan pengungsi untuk melanjutkan riset dan studi di University of Bangui. Namun, perpindahan ini memaksa mereka beradaptasi dari kurikulum berbahasa Arab ke bahasa Prancis. "Kami menghadapi kendala bahasa dan finansial yang berat untuk mempertahankan janji membawa pulang ijazah," kata Gamar el-Shaikh, mahasiswa sosiologi.
Menurut Intisar el-Sadig, mahasiswi yang kehilangan suaminya akibat perang, pendidikan adalah satu-satunya cara melawan kehancuran masa depan. Inovasi pembelajaran yang terbatas di kamp pengungsian memaksa para mahasiswa tangguh ini berjuang mandiri. Akses digital yang minim menjadi hambatan utama dalam mengejar ketertinggalan akademis mereka di tanah pengasingan.