Dinamika Pakta Pertahanan dan Kebijakan Publik Korut-China
Hubungan bilateral ini diresmikan melalui Perjanjian Persahabatan, Kerja Sama, dan Bantuan Bersama pada 1961 oleh Zhou Enlai dan Kim Il Sung. Pakta pertahanan ini mewajibkan kedua negara saling membantu jika terjadi serangan militer dari luar. Perdana Menteri Korea Utara Pak Thae Song baru saja mengunjungi Beijing guna memperingati kerja sama bersejarah ini.
China telah bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia, sedangkan Korea Utara tetap terisolasi akibat sanksi internasional. Kendati demikian, aliansi ini berhasil melewati era Perang Dingin dan runtuhnya Uni Soviet. Beijing terus menyalurkan bantuan ekonomi karena tidak menginginkan adanya gelombang pengungsi besar di sepanjang perbatasan.
Read Also
Bagi Beijing, stabilitas kawasan Asia Timur jauh lebih penting daripada ambisi nuklir Pyongyang. Menurut analisis pengamat, China membutuhkan Korea Utara sebagai penyangga geopolitik demi membendung kehadiran pasukan Amerika Serikat di Semenanjung Korea. Beijing mengambil sikap hati-hati dengan mendukung sanksi PBB namun tetap menjaga kelangsungan rezim Kim Jong Un.
Kini kedekatan Korea Utara dan Rusia melalui pakta pertahanan baru 2024 mulai mengubah peta politik kawasan. Pemimpin Kim Jong Un mendapatkan alternatif pasokan energi serta teknologi militer baru dari Moskow. Hal ini memaksa China memperkuat front persatuan dengan Korea Utara guna mengimbangi aliansi militer Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan.