Ketegangan Militer Meningkat dan Masa Depan Kebijakan Publik AS di Timur Tengah
Ketegangan memuncak setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa membalas kematian ayahnya adalah tuntutan nasional yang mutlak. Jutaan warga Iran turun ke jalan dalam prosesi pemakaman seraya menyuarakan ancaman pembunuhan terhadap Trump. Intelijen Israel juga telah memperingatkan Washington mengenai rencana spesifik Iran untuk menyerang Presiden AS.
Melalui platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa seribu rudal Amerika telah bersiap membidik Republik Islam Iran. Perintah militer telah diturunkan agar angkatan bersenjata AS siap siaga penuh selama satu tahun ke depan. Ancaman ini muncul pasca-serangan udara AS terhadap lima provinsi Iran sebagai respons atas sabotase kapal tanker di Selat Hormuz.
Read Also
Meskipun retorika perang menguat, diplomasi di balik layar terus diupayakan demi menyelamatkan pakta gencatan senjata yang mulai rapuh. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tiba di Oman untuk merundingkan jalur aman navigasi laut. Delegasi tingkat tinggi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance dijadwalkan menemui pihak Iran guna menuntut pembatasan nuklir.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa negaranya tidak akan pernah menyerah pada tekanan sepihak Washington. Menurut Ghalibaf, Iran siap melakukan pertahanan skala penuh jika Amerika Serikat mengkhianati nota kesepahaman yang dimediasi oleh Pakistan. Ketidakpastian ini kini mengancam stabilitas pasar energi global secara signifikan.