Membongkar Oposisi Biner Hukum Internasional dan Dendam Kedaulatan
Dunia kembali menahan napas menyaksikan ketegangan baru setelah suksesi senyap di Teheran dan gertakan keras dari Washington. Konflik global bukan lagi sekadar perebutan wilayah atau fluktuasi harga minyak mentah melainkan sebuah panggung teatrikal yang megah. Mengapa narasi perdamaian selalu ditulis dengan tinta ancaman pemusnahan massal yang mengerikan?
Fakta menunjukkan bahwa seribu rudal siap diluncurkan sementara pemimpin baru Iran bersumpah membalas kematian ayahnya melalui pesan tertulis tanpa kehadiran fisik. Angka-angka kerugian dan klaim sepihak atas Selat Hormuz memperlihatkan bagaimana ruang publik global dikelola melalui kalkulasi kapitalistik. Di balik semua retorika membara tersebut sesungguhnya ada makna mendalam tentang kemanusiaan yang sengaja dikorbankan demi stabilitas ekonomi.
Read Also
Wacana dominan selalu menjebak kita dalam oposisi biner yang kaku antara Barat yang rasional melawan Timur yang emosional religioso. Logosentrisme global memosisikan hukum internasional dan pasar bebas sebagai pusat moralitas yang absolut bagi ketertiban dunia. Namun pandangan ini secara sepihak meminggirkan jeritan masyarakat bawah yang menderita akibat sanksi ekonomi jangka panjang.
Mari kita lakukan dekonstruksi terhadap klaim kepatuhan bersama yang sering digaungkan oleh negara-negara adidaya penentu kebijakan global. Ketika pengecualian dagang dibatalkan sepihak, kontrak sosial universal itu runtuh dan menampakkan wajah aslinya sebagai instrumen represi pasca-kolonial. Retorika perang yang vulgar membuktikan bahwa hukum internasional sering kali hanyalah kedok bagi kehendak berkuasa yang telanjang.
Di sinilah kita menemukan aporia yang membingungkan ketika ketertiban ditegakkan melalui ancaman genosida total yang tidak masuk akal. Di sisi lain kedaulatan spiritual Iran bersandar pada trace atau jejak dari sosok pemimpin yang tak terlihat secara empiris. Bagaimana mungkin sebuah resolusi damai dapat dicapai jika kedua belah pihak terjebak dalam metafisika kehadiran yang saling menegasikan?
Pada akhirnya makna keadilan dan perdamaian sejati terus mengalami différance atau penundaan yang tidak pernah selesai di medan laga. Selat Hormuz berubah menjadi teks terbuka yang terus ditafsirkan lewat laras senjata dan ambisi kekuasaan yang fana. Apakah kita sedang menuju tatanan dunia yang beradab atau justru kembali ke era barbarisme modern yang dilegalkan?