Eskalasi Militer AS di Iran dan Kebijakan Tarif Sepihak Donald Trump
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mencapai titik kritis setelah runtuhnya kesepakatan damai sementara. Militer Amerika Serikat melalui Komando Sentral menyatakan bahwa misi tempur lima jam tersebut menghantam target strategis di Bushehr dan Bandar Abbas. Serangan udara ini diklaim bertujuan untuk melumpuhkan kemampuan militer Iran dalam mengganggu jalur pelayaran komersial internasional.
Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam Iran meluncurkan gelombang serangan balasan menggunakan rudal dan pesawat tanpa awak ke pangkalan militer sekutu Washington di Bahrain dan Yordania. Eskalasi masif ini langsung mengguncang pasar energi global dengan lonjakan harga minyak mentah yang melesat lebih dari sembilan persen akibat kekhawatiran gangguan pasokan fatal.
Read Also
Presiden Donald Trump secara sepihak mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan mengambil alih Selat Hormuz dan memungut biaya perlindungan sebesar 20 persen untuk setiap kargo yang melintas. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi langsung menyindir keras rencana tersebut dan menyatakan bahwa "20 persen tentu terlalu mahal, kami akan mengenakan biaya yang lebih adil jika kami yang memungutnya".
Konflik bersenjata ini diprediksi berdampak luas pada kebijakan publik dunia karena melanggar hukum laut internasional tentang hak lintas damai. Pakar regional dari Chatham House Bader Al-Saif menilai kedua belah pihak kini terjebak dalam lingkaran kekerasan baru karena masing-masing ingin memaksakan syarat perdamaian sesuai kehendak politik sendiri.