Ketegangan Militer di Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia
Pasukan Komando Sentral AS atau CENTCOM menghujani infrastruktur pertahanan udara, situs radar pesisir, serta fasilitas rudal Iran menggunakan amunisi presisi. Langkah agresif ini diambil setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran dilaporkan menembaki kapal dagang internasional yang melintasi Selat Hormuz. Presiden Donald Trump langsung menginstruksikan operasi ini demi menuntut pertanggungjawaban militer Tehran atas gangguan jalur perdagangan maritim global.
Serangan berturut-turut dalam dua malam terakhir ini menyasar sekitar 140 situs militer, termasuk wilayah industri minyak penting di Provinsi Khuzestan dan Hormozgan. Imbas eskalasi bersenjata ini, harga minyak mentah Brent langsung melonjak 3,92 persen menjadi 78,99 dolar AS per barel di pasar komoditas. Selain itu, harga minyak mentah AS ikut merangkak naik sebesar 3,44 persen akibat kekhawatiran pasar atas stabilitas pasokan energi dunia.
Read Also
Kementerian Luar Negeri Iran mengutuk keras agresi militer tersebut dan menuduh Washington telah melanggar hukum internasional secara terang-terangan. "Hanya 25 hari setelah penandatanganan kesepakatan damai, Amerika Serikat telah melanggar hampir seluruh isi perjanjian tersebut dengan menyerang infrastruktur kami," bunyi pernyataan resmi pemerintah Tehran yang memperingatkan negara tetangga agar tidak membantu pangkalan militer asing di kawasan Teluk.
Konflik ini memicu aksi saling balas setelah Iran meluncurkan drone dan rudal ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain, hingga memaksa Yordania mencegat proyektil di ruang udaranya. Ketegangan geopolitik yang kembali membara ini mengancam stabilitas keamanan regional, merusak upaya diplomasi yang sebelumnya dimediasi oleh Pakistan, serta berpotensi menekan inflasi global melalui lonjakan harga bahan bakar.