Ketika Kekerasan Militer Menjadi Topeng Kebebasan Global
Dunia menyaksikan ketegangan baru saat jet tempur Amerika Serikat kembali menggempur wilayah Iran pada Minggu malam. Jalur perdagangan minyak global yang krusial kini berubah menjadi panggung teatrikal kekuasaan yang mengerikan bagi peradaban modern modern kita.
Komando Pusat AS atau CENTCOM menyatakan serangan selesai sekitar pukul sepuluh malam demi merespons penembakan kapal kontainer berbendera Siprus. Angka dan jadwal serangan ini memperlihatkan bagaimana ruang publik internasional dikendalikan penuh oleh kekuatan militer.
Read Also
Konflik ini mempertemukan oposisi biner yang tajam antara konsep 'keterbukaan' versi Washington dan 'penutupan' dari Teheran. Dua klaim kebenaran yang saling bertubrukan ini menciptakan ruang abu-abu yang mengabaikan hakikat perdamaian dunia.
Narasi dominan menyebut tindakan Donald Trump sebagai bentuk penegakan hukum internasional untuk melindungi stabilitas ekonomi global dunia. Namun klaim menjaga keterbukan ini justru menyembunyikan hasrat geopolitik barat untuk menguasai jalur energi vital.
Kita tiba pada sebuah aporia atau jalan buntu logis yang membingungkan pikiran kita. Bagaimana mungkin sebuah jalur maritim disebut 'terbuka' jika untuk mempertahankannya kita harus menciptakan kondisi perang yang mencekam?
Selat Hormuz kini bukan sekadar wilayah geografis melainkan lembaran teks yang terus ditulis ulang oleh ledakan bom dan retorika politik. Apakah kebebasan internasional selalu menuntut penindasan kedaulatan lokal melalui jalan kekerasan?