Ketegangan Selat Hormuz dan Stimulus Risiko Ekonomi Global
Komando Sentral Amerika Serikat (CENTCOM) meluncurkan gelombang serangan udara kedua yang menghantam puluhan target militer di wilayah selatan Iran. Operasi skala besar ini menghancurkan berbagai infrastruktur pertahanan, termasuk sebuah hanggar pesawat di kota Omidiyeh. Korps Garda Revolusi Islam Iran segera merespons dengan menembakkan rudal ke pangkalan militer Amerika Serikat.
Eskalasi konflik bersenjata ini langsung mengguncang sektor ekonomi makro global. Harga minyak mentah dunia jenis Brent melonjak 3,92 persen menjadi 78,99 dolar per barel, sementara minyak mentah Amerika Serikat naik 3,44 persen ke level 73,87 dolar per barel. Lonjakan ini memicu kekhawatiran meluasnya inflasi pada sektor energi.
Read Also
Pengamat energi dari Rapidan Energy Group, Bob McNally, menyatakan pergerakan harga komoditas ini masih tertahan oleh jaminan diplomatik. Menurut McNally, pasar tidak mengalami kepanikan ekstrem karena Presiden Donald Trump menegaskan komitmennya untuk menjaga jalur pelayaran internasional tetap terbuka guna menghindari katastrofe finansial global.
Konflik ini meletus di tengah kebuntuan negosiasi gencatan senjata 60 hari antara Washington dan Tehran mengenai status hukum Selat Hormuz. Jalur perdagangan strategis tersebut kini ditutup sepihak oleh otoritas Iran, membahayakan stabilitas politik, mengancam neraca perdagangan global, serta memicu kesiagaan militer penuh di negara-negara teluk sekitarnya.