Krisis Kemanusiaan dan Pelanggaran Hukum Terhadap Migran Etiopia
Amanuel terbangun setiap hari di Penjara Khamis Mushait tanpa pernah tahu apakah itu hari terakhirnya hidup. Eksekusi mati di Arab Saudi kerap dilaksanakan mendadak tanpa ada pemberitahuan atau kesempatan mengucapkan perpisahan kepada keluarga. Nestapa ini menjadi realitas kelam bagi ratusan migran rentan asal Tanduk Afrika yang mencari kehidupan baru namun berujung di lorong kematian.
Data lembaga swadaya masyarakat mencatat 356 orang dieksekusi di Arab Saudi tahun lalu, angka tertinggi dalam sejarah modern kerajaan tersebut. Sebanyak 240 di antaranya merupakan warga asing yang terjerat kasus narkotika non-kekerasan. Tahun ini, jumlah eksekusi terkait narkotika telah mencapai 71 orang, dengan warga negara Etiopia sebagai kelompok minoritas asing terbesar yang paling terdampak.
Read Also
Menurut Taha al-Hajji, Direktur Hukum European Saudi Organization for Human Rights, persidangan kasus berat di kerajaan tersebut rutin mengabaikan jaminan keadilan minimum. "Terdakwa tidak diberikan pendampingan hukum dan penerjemah yang memadai, sehingga mereka dijatuhi hukuman mati tanpa memahami prosesnya, sering kali berdasarkan pengakuan di bawah siksaan," ujar al-Hajji menegaskan situasi tersebut.
Banyak migran terjebak dalam lingkaran utang akibat pemerasan oleh penyelundup manusia selama perjalanan berbahaya melintasi Yaman menuju perbatasan. Kondisi ini dimanfaatkan sindikat untuk memaksa mereka membawa ganja atau khat ke Arab Saudi tanpa memahami risiko hukumnya. Hingga kini, Kementerian Luar Negeri Etiopia menolak berkomentar detail demi menjaga hubungan diplomasi dengan Riyadh.