Menatap Lubang Kosong di Balik Logika Pertahanan dan Industri Senjata
Ketika sepuluh negara berkumpul di Paris untuk merajut kesepakatan tameng udara Freyja rasanya kita sedang menyaksikan sebuah ritual lama yang terus berulang. Di balik kecemasan akan hujan rudal balistik Rusia tersimpan sebuah pertanyaan mendasar yang menggelitik akal sehat kita. Apakah kita benar-benar sedang merancang jalan pulang menuju perdamaian atau justru sedang mengabadikan perang dalam bentuk yang lebih rapi?
Fakta berbicara bahwa Ukraina saat ini kehabisan amunisi untuk menangkis serangan udara yang telah merenggut nyawa warga sipil. Menghadapi situasi genting ini proyek Freyja lahir sebagai alternatif murah dari sistem pertahanan Patriot milik Amerika Serikat. Namun angka-angka efisiensi anggaran dan kecanggihan teknologi ini sering kali mengaburkan makna terdalam bahwa keamanan kini telah direduksi menjadi komoditas industri semata.
Read Also
Dalam wacana dominan pertahanan selalu dihadapkan dengan serangan sebagai oposisi biner yang mutlak bersih. Kita dipaksa memilih satu sisi seolah pertahanan adalah kebajikan murni tanpa cela sedangkan serangan adalah kejahatan absolut. Padahal batas kedua hal tersebut kian kabur ketika upaya bertahan justru dirayakan bersamaan dengan intensifikasi serangan drone ke wilayah dalam Rusia.
Gagasan logosentrisme ini runtuh ketika Freyja secara jujur diakui hanya berfungsi sebagai 'supplement' alias tambahan bagi sistem pertahanan yang sudah ada. Konsep suplemen ini menunjukkan bahwa pusat kekuatan pertahanan Barat sebenarnya tidak pernah penuh dan selalu mengalami kekurangan internal. Kehadiran industri raksasa seperti Thales dan Saab juga membongkar kontradiksi bahwa ketakutan massal adalah bahan bakar utama sirkulasi kapital mereka.
Di sinilah kita menemui sebuah aporia atau jalan buntu logis yang membuat resolusi damai terasa mustahil dicapai secara sederhana. Untuk menghentikan perang koalisi militer justru harus terus bersiap menghadapi perang melalui latihan multinasional dan produksi senjata baru. Bagaimana mungkin kita bisa menghadirkan perdamaian jika instrumen yang digunakan untuk mencapainya adalah mesin-mesin yang dirancang untuk kehancuran?
Pada akhirnya kehadiran perdamaian sejati selalu tertunda dalam rantai perbedaan dan penundaan yang tak berujung. Jejak kekerasan baru akan selalu mengikuti setiap langkah pembuatan perisai yang dianggap menyelamatkan ini. Apakah Freyja akan benar-benar membawa para pihak ke meja perundingan atau justru mengunci kita semua dalam siklus ketakutan abadi yang tidak pernah selesai?